Di Antara Hujan dan Rahasia
---
### **Bab 1 — Pertemuan yang Tidak Direncanakan**
Hujan turun sejak sore, membasahi seluruh sudut kota seperti sedang membilas kenangan yang tidak ingin diingat. Trotoar terlihat basah, jendela-jendela toko memantulkan titik-titik air, dan angin dingin membuat orang-orang mempercepat langkah agar segera mencapai tempat tujuan. Namun di depan sebuah perpustakaan kecil yang berada di sudut jalan Meranti, seorang perempuan justru berdiri mematung dengan payung yang sudah patah di salah satu sisinya.
Nama perempuan itu **Ayla**.
Ayla memandangi payung hitamnya yang kini berubah seperti antena televisi rusak. Angin membuatnya terlipat-lipat, dan setiap ia mencoba meluruskan, payung itu semakin hancur. Ia sudah pasrah, tidak punya pilihan lain selain menunggu hujan sedikit reda. Jaket rajut cokelat yang ia kenakan basah di bagian bahu, membuatnya menggigil halus.
“Kenapa harus sekarang sih…” gumamnya lirih.
Sore itu ia seharusnya sudah pulang lebih cepat. Bos perpustakaan tempatnya bekerja meminta bantuan memindahkan beberapa kotak buku lama. Tugas itu seharusnya selesai dalam satu jam, tetapi Ayla malah terjebak menyortir koleksi buku anak-anak yang baru disumbangkan. Ia terlalu tenggelam dalam pekerjaan hingga lupa waktu.
Sementara ia berdiri sambil memeluk tas selempangnya, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Jendela mobil perlahan turun, memperlihatkan seorang pria dengan rambut sedikit berantakan, mengenakan kemeja biru dengan lengan tergulung.
“Ada masalah dengan payungnya?”
Ayla menoleh. Laki-laki itu tampak familiar meski ia tidak langsung mengenalinya. Tatapannya tajam namun tidak mengintimidasi, dan suaranya terdengar tenang.
“Ah… ini...” Ayla mengangkat payungnya yang telah menyerah pada keadaan. “Sepertinya sudah tidak bisa dipakai lagi.”
Pria itu tersenyum kecil, lalu keluar dari mobil sambil membawa payung besar berwarna abu-abu. “Kalau mau, saya antar. Hujannya masih akan lama.”
“Tidak usah, saya tidak apa-apa,” jawab Ayla cepat. Ia tidak terbiasa menerima bantuan dari orang asing.
Namun pria itu kembali membuka pintu mobilnya, kali ini sambil berkata, “Saya tidak memaksa. Tapi setidaknya jangan sampai kamu sakit hanya karena menunggu hujan berhenti.”
Nada suaranya tulus. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan.
Ayla menatap trotoar yang mulai tergenang dan udara yang semakin dingin. Ia akhirnya mengangguk pelan.
“Baik, terima kasih.”
Mereka berjalan bersama menuju mobil, payung abu-abu itu cukup besar untuk menutupi keduanya. Tapi Ayla tetap menjaga jarak, canggung, dan sedikit kaku. Tubuhnya tegang seperti buku yang belum dibuka.
Saat mereka masuk ke dalam mobil, pria itu menyalakan pemanas. “Nama saya Raka,” katanya sambil memasang sabuk pengaman.
Ayla ikut memasang sabuknya sebelum menjawab, “Ayla.”
“Bekerja di perpustakaan itu?”
Ayla mengangguk. “Iya, saya baru selesai shift.”
“Oh,” Raka tersenyum, “pantas tadi saya lihat kamu keluar membawa tumpukan buku. Sepertinya bekerja terlalu keras.”
Ayla terkejut. “Kamu lihat?”
“Tidak sengaja. Kantor saya di seberang jalan.” Raka menunjuk gedung kaca beberapa meter dari perpustakaan.
“Ah…” Ayla hanya mengangguk, tanpa tahu harus memberi respon apa.
Saat mobil mulai melaju, hujan menampar kaca depan dengan ritme cepat. Suara wiper bergerak memenuhi suasana. Di dalam mobil terasa hangat, kontras dengan dinginnya sore.
“Rumah kamu di mana?” tanya Raka.
“Di Jalan Delima, dekat taman kota.”
“Tidak jauh dari sini. Bagus, kita bisa sampai sebelum hujan makin deras.”
Ayla mengangguk lagi. Ia tidak banyak bicara. Raka sepertinya tidak keberatan — ia tidak banyak bertanya, hanya sesekali menatap jalan sambil tersenyum tipis.
Namun, di balik ketenangannya, Ayla merasa ada sesuatu pada Raka yang… sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuatnya berhati-hati, tapi juga membuatnya ingin tahu.
Hampir sepuluh menit berlalu sebelum Raka tiba-tiba berkata, “Kamu sering bekerja sampai malam?”
“Kadang. Kalau ada banyak buku baru.”
“Kamu suka pekerjaan itu?”
Ayla tersenyum kecil. “Iya. Saya suka berada di tempat yang tenang.”
Raka menatapnya sekilas, seolah memahami sesuatu. “Tempat yang tenang memang bisa jadi tempat yang paling aman.”
Tidak ada lanjutan. Tetapi kata-kata itu terasa seperti menyentuh bagian dalam diri Ayla yang jarang disentuh orang lain.
Mereka tiba di depan rumah Ayla. Ia buru-buru membuka tas untuk mengambil dompet. “Terima kasih banyak, ini—”
Raka mengangkat tangan, menolak. “Tidak perlu. Pulanglah.”
Ayla terdiam, merasa malu karena berniat memberi uang seperti naik ojek online.
“Maaf…”
“Tidak apa-apa,” ujar Raka sambil tersenyum lembut, “Saya hanya ingin menolong.”
Ayla turun dari mobil dengan wajah memanas. “Terima kasih, Raka.”
“Sama-sama.” Raka menutup jendela lalu melajukan mobilnya kembali ke jalan.
Ayla menatap mobil itu hingga hilang dari pandangan… tanpa tahu bahwa pertemuan hari ini hanya awal dari segala hal yang akan mengubah hidupnya.
---
### **Bab 2 — Rasa yang Tidak Pernah Direncanakan**
Keesokan paginya, Ayla kembali bekerja seperti biasa. Ia membuka pintu perpustakaan, menghirup aroma buku lama dan kayu yang menjadi ciri khas tempat itu. Hari ini cukup ramai karena jadwal kunjungan anak sekolah. Ia menyibukkan diri seperti biasa: merapikan rak, mengurus buku yang dipinjam, dan membantu pengunjung yang mencari referensi.
Namun pikirannya berkali-kali kembali pada sosok yang mengantarnya pulang semalam.
Raka.
Ia bukan tipe orang yang mudah penasaran pada laki-laki, tetapi ada sesuatu pada Raka yang masih menempel di pikiran. Mungkin karena caranya berbicara yang tenang. Mungkin karena tatapannya yang seperti menyimpan cerita. Atau karena ia muncul pada saat Ayla memang membutuhkan bantuan.
Sore itu, saat perpustakaan mulai sepi, seseorang masuk sambil membawa dua cangkir kopi kertas.
Ayla menoleh.
Dan matanya membesar.
Raka.
Pria itu berdiri di depan meja peminjaman seperti seseorang yang memang sudah akrab dengan tempat itu.
“Hai,” sapanya sambil mengangkat salah satu cangkir. “Aku tidak tahu kamu suka kopi apa, jadi aku pilih yang rasanya paling aman.”
Ayla menatapnya, terkejut, bingung, tapi juga… senang?
“Kamu kenapa ke sini?” tanyanya pelan.
Raka tersenyum kecil. “Kemarin aku lihat kamu lembur. Sepertinya kamu butuh sesuatu yang manis.”
Ayla menerima kopi itu dengan kedua tangan, masih tidak percaya.
“Terima kasih… tapi kamu tidak perlu repot.”
“Aku memang tidak perlu,” jawab Raka. “Tapi aku mau.”
Kata-kata itu membuat jantung Ayla berdebar.
Raka menatap sekeliling ruangan. “Tempat ini menyenangkan. Tenang. Kamu cocok di sini.”
Ayla mengangguk.
Tidak biasanya seseorang datang membawa kopi hanya untuk menyapanya. Tidak biasanya seseorang memperhatikan hal-hal sederhana seperti ia lembur atau payungnya rusak.
Dan yang aneh, kehadiran Raka tidak terasa mengganggu. Justru seperti kehangatan yang tidak ia sadari ia butuhkan.
Namun Ayla belum tahu bahwa Raka datang dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa tertarik.
Ia datang membawa **rahasia** yang akan mengubah hidup keduanya.
---